Hidup kini tak
beralaskan bumi. Bukan sekedar hidup untuk memenuhi kantung perut yang merintih
bisu. Bukan hanya itu. Namun semua kini telah berubah tak indah, menghasilkan
biji masak tak berbuah. Mereka yang kini hidpunya menumpang pada nasib dan ikut
membuntuti takdir hidup pasrah namun resah. Mereka tak sanggup memberi sanak
saudara, istri dan keluarga berupa daging mewah. Hanya sayur yang ditancapkan
kebumi dan ikan-ikan kucing yang tersisa dari si kaya.
Wednesday, March 28, 2012
Bersama Air
Pernah ia berfikir bagaimana ia
melupakan dan meledakan duka ini. Ia terdiam termangu di pojokan kamarnya.
Selimut diatarik erat melindungi udara dingin dari si peniup di tembok
kamarnya. Dia kedinginan, terbujur kaku, dan kesakitan. Sementara hujan berderu
deras di luar kamarnya menyambut sakit hatinya. Dia pedih disini, bersama
selimut, udara mencekam, dan dentingan suara hujan. Setidaknya ia tidak
sendirian. Dia bersama kenangannya yang tersisa.
Subscribe to:
Comments (Atom)