Pernah ia berfikir bagaimana ia
melupakan dan meledakan duka ini. Ia terdiam termangu di pojokan kamarnya.
Selimut diatarik erat melindungi udara dingin dari si peniup di tembok
kamarnya. Dia kedinginan, terbujur kaku, dan kesakitan. Sementara hujan berderu
deras di luar kamarnya menyambut sakit hatinya. Dia pedih disini, bersama
selimut, udara mencekam, dan dentingan suara hujan. Setidaknya ia tidak
sendirian. Dia bersama kenangannya yang tersisa.
Dia
pergi dari keraguan bersama dengan benda yang sedari tadi sebenarnya ia
genggam. Ia genggam dengan keraguan. Keraguan mendalam. Dia menuruni tangga.
Dia melewati semua benda mati yang sedari tadi menatapnya kaku penuh rasa iba.
Ia buka pintu halaman belakang dan menyambut hujan dengan damai. Di tengah
hujan, ia tusukan pisau ke dalam dadanya agar perih di hatinya pergi terbawa
hujan sore itu.
“hai
hujan, bawalah darahku yang membawa kebencianku.” Makin dalam pisau itu
tertanam dalam dadanya. Air mengalirkan darah dari dadanya. Membawa kebencian
bersama ratusan rintikan hujan, berpetualang dan bersatu mengarungii dunia. Aku
tetap berhembus dan menjadi saksi bagaimana kebencian dalam darah itu akhirnya
berbaur.
“hai
darah yang membawa kebencian, sesuai titahnya ikutlah bersamaku dan menjauh darinya
dan semoga ia kan bahagia di kehidupan selanjunya.” Ucap si air hujan yang
semakin lama semakin membasahi rerumputan.
“pastinya,
akan ku bawa benci ini. Akan ku hapus semua. Aku berjanji. Demi
pengorbanannya.” Mengalirlah si darah dari dada seseorang yang telah hancur
hatinya. Kini mereka bersama menjauh dari taman itu. Menelusuri kota, bergabung
dengan air-air lain sembari menghilangankan kebencian tersebut dan meninggalkannya
perlahan-lahan.
Aku
terus bersaksi dan membantu air dan darah itu menuju lautan dengan seluruh
tenaga dan ibaku. Membawa mereka mengalir melewati kubangan lusuh, kotor,
berlumpur. Sempat si darah dan air terjebak dari lumpur. Terjebak bersama
kebencian yang tersisa. Namun beruntung, bala bantuan datang disaat yang tepat.
Hujan kembali turun. Mengangkat mereka dari jebakan yang tak mereka sangkakan.
Sehari,
dua hari, seminggu, dua minggu, makin lama mereka bersama, makin benyak pula
kebencian yang telah mereka tinggalkan dan hapus selama perjalanan. Semua
seperti mimpi, saat seketika mereka mengalir deras melewati pipa menuju sungai.
Mereka terjun bahagia bagaikan anak-anak di taman dengan permainan mereka.
Seperti remaja-remaja yang menghabiskan waktu di taman bermain mereka. Mereka
beruntung, sedikit demi sedikit kebencian hilang dan tergantikan oleh
kebahagiaan.
Tiba
mereka di sungai. Semua merasa lega. Mereka tahu bahwa si darah telah pergi
jauh dari tuannya. Telah membuang lebih dari setengah kebencian nya,
meninggalkannya, dan melupakannya. Sedikit lagi semua akan berubah. Kebencian
itu akan musnah. Dan mereka akan mengambang sejuk di laut lepas bersama air-air
lain, bersama hewan-hewan yang akan menemani mereka.
Setibanya
dilaut, hampir semua kebencian yang tertanam pada si darah musnah. Namun si air
belum memberi tahu si darah bahwa suatu saat ia akan kembali ke atas awan dan
jatuh lagi kembali bersama air-air yang lain. Sama seperti sebelum-sebelumnya.
“mungkin
saat jatuh nanti kita akan berpisah. Maka kita harus tahu dimana kita akan
jatuh.” Ucap si air tak tega melepas teman seperjalanannya ini. Mereka telah
bersatu, melampaui segala rintangan. Menjauh dari badan seseorang. Melepaskan
kebencian, namun pada akhirnya mereka dipisahkan.
“benarkah
itu? Tapi tenanglah sahabat. Sedikit lagi kebencian ini akan musnah untuk selamanya.
Tak usah kau khawatirkan lagi aku. Bersenang-senanglah dan manfaatkan waktu
kita bersama-sama selagi bisa.” Dengan bijak si darah berkata pada si air.
Hingga tanpa mereka sadari peri-peri yang menjelma mejadi sinar matahari
mengangkat mereka dari luas nya lautan. Hanya mengangkat mereka dan
meninggalkan segala kebencian dan mananamkan kebahagiaan kepada si darah dan si
air.
Kini
kita berada di awan, dan aku terus bersaksi.
“hai
darah, kalau boleh ku tahu. Kemanakah kau ingin ku jatuhkan?” tanyaku sebagai
penunjuk arah.
“kemanapun
kau mau jatuh, akan ku hantarkan.”
“kau
tahu kemana ku ingin jatuh wahai angin.” Ucapnya lembut dengan senyuman penuh
berkah itu. Si darah dan si air tahu selama ini aku mebuntuti mereka. Aku
memanggilkan hujan untuk mereka. Aku meniupkan arah kepada mereka. Aku yang
menghapus kebencian yang mereka bawa.
Beberapa
hari si darah berada di awan, ia kembali bertemu dengan si air teman lamanya.
Sesaat kemudian terjadi halilintar dahsyat menunjukan akan terjadi hujan besar dan
sebagai tanda kerinduan mereka berdua yang begitu hebat. Di tempat itu aku
turunkan mereka sebagai seorang sahabat. Dan jatuhlah mereka ke tempat dimana
seseorang yang menyatukan mereka tertidur lelap dengan senyuman untuk
selamanya.
No comments:
Post a Comment