Wednesday, March 28, 2012

Bersama Air


                Pernah ia berfikir bagaimana ia melupakan dan meledakan duka ini. Ia terdiam termangu di pojokan kamarnya. Selimut diatarik erat melindungi udara dingin dari si peniup di tembok kamarnya. Dia kedinginan, terbujur kaku, dan kesakitan. Sementara hujan berderu deras di luar kamarnya menyambut sakit hatinya. Dia pedih disini, bersama selimut, udara mencekam, dan dentingan suara hujan. Setidaknya ia tidak sendirian. Dia bersama kenangannya yang tersisa.
                Dia pergi dari keraguan bersama dengan benda yang sedari tadi sebenarnya ia genggam. Ia genggam dengan keraguan. Keraguan mendalam. Dia menuruni tangga. Dia melewati semua benda mati yang sedari tadi menatapnya kaku penuh rasa iba. Ia buka pintu halaman belakang dan menyambut hujan dengan damai. Di tengah hujan, ia tusukan pisau ke dalam dadanya agar perih di hatinya pergi terbawa hujan sore itu.
                “hai hujan, bawalah darahku yang membawa kebencianku.” Makin dalam pisau itu tertanam dalam dadanya. Air mengalirkan darah dari dadanya. Membawa kebencian bersama ratusan rintikan hujan, berpetualang dan bersatu mengarungii dunia. Aku tetap berhembus dan menjadi saksi bagaimana kebencian dalam darah itu akhirnya berbaur.
                “hai darah yang membawa kebencian, sesuai titahnya ikutlah bersamaku dan menjauh darinya dan semoga ia kan bahagia di kehidupan selanjunya.” Ucap si air hujan yang semakin lama semakin membasahi rerumputan.
                “pastinya, akan ku bawa benci ini. Akan ku hapus semua. Aku berjanji. Demi pengorbanannya.” Mengalirlah si darah dari dada seseorang yang telah hancur hatinya. Kini mereka bersama menjauh dari taman itu. Menelusuri kota, bergabung dengan air-air lain sembari menghilangankan kebencian tersebut dan meninggalkannya perlahan-lahan.
                Aku terus bersaksi dan membantu air dan darah itu menuju lautan dengan seluruh tenaga dan ibaku. Membawa mereka mengalir melewati kubangan lusuh, kotor, berlumpur. Sempat si darah dan air terjebak dari lumpur. Terjebak bersama kebencian yang tersisa. Namun beruntung, bala bantuan datang disaat yang tepat. Hujan kembali turun. Mengangkat mereka dari jebakan yang tak mereka sangkakan.
                Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu, makin lama mereka bersama, makin benyak pula kebencian yang telah mereka tinggalkan dan hapus selama perjalanan. Semua seperti mimpi, saat seketika mereka mengalir deras melewati pipa menuju sungai. Mereka terjun bahagia bagaikan anak-anak di taman dengan permainan mereka. Seperti remaja-remaja yang menghabiskan waktu di taman bermain mereka. Mereka beruntung, sedikit demi sedikit kebencian hilang dan tergantikan oleh kebahagiaan.
                Tiba mereka di sungai. Semua merasa lega. Mereka tahu bahwa si darah telah pergi jauh dari tuannya. Telah membuang lebih dari setengah kebencian nya, meninggalkannya, dan melupakannya. Sedikit lagi semua akan berubah. Kebencian itu akan musnah. Dan mereka akan mengambang sejuk di laut lepas bersama air-air lain, bersama hewan-hewan yang akan menemani mereka.
                Setibanya dilaut, hampir semua kebencian yang tertanam pada si darah musnah. Namun si air belum memberi tahu si darah bahwa suatu saat ia akan kembali ke atas awan dan jatuh lagi kembali bersama air-air yang lain. Sama seperti sebelum-sebelumnya.
                “mungkin saat jatuh nanti kita akan berpisah. Maka kita harus tahu dimana kita akan jatuh.” Ucap si air tak tega melepas teman seperjalanannya ini. Mereka telah bersatu, melampaui segala rintangan. Menjauh dari badan seseorang. Melepaskan kebencian, namun pada akhirnya mereka dipisahkan.
                “benarkah itu? Tapi tenanglah sahabat. Sedikit lagi kebencian ini akan musnah untuk selamanya. Tak usah kau khawatirkan lagi aku. Bersenang-senanglah dan manfaatkan waktu kita bersama-sama selagi bisa.” Dengan bijak si darah berkata pada si air. Hingga tanpa mereka sadari peri-peri yang menjelma mejadi sinar matahari mengangkat mereka dari luas nya lautan. Hanya mengangkat mereka dan meninggalkan segala kebencian dan mananamkan kebahagiaan kepada si darah dan si air.
                Kini kita berada di awan, dan aku terus bersaksi.
                “hai darah, kalau boleh ku tahu. Kemanakah kau ingin ku jatuhkan?” tanyaku sebagai penunjuk arah.
                “kemanapun kau mau jatuh, akan ku hantarkan.”
                “kau tahu kemana ku ingin jatuh wahai angin.” Ucapnya lembut dengan senyuman penuh berkah itu. Si darah dan si air tahu selama ini aku mebuntuti mereka. Aku memanggilkan hujan untuk mereka. Aku meniupkan arah kepada mereka. Aku yang menghapus kebencian yang mereka bawa.
                Beberapa hari si darah berada di awan, ia kembali bertemu dengan si air teman lamanya. Sesaat kemudian terjadi halilintar dahsyat menunjukan akan terjadi hujan besar dan sebagai tanda kerinduan mereka berdua yang begitu hebat. Di tempat itu aku turunkan mereka sebagai seorang sahabat. Dan jatuhlah mereka ke tempat dimana seseorang yang menyatukan mereka tertidur lelap dengan senyuman untuk selamanya.

No comments:

Post a Comment