"tapi ga gini maria. tapi terserah kalau kamu mau tetap seperti ini, tapi aku akan pergi dan membawa bella!"
"ga bisa. kalau kamu mau pergi, bella tetap bersamaku mas."
suara mereka terlalu kencang untuk tak kudengarkan. ruangan mereka tepat bersebelahan dengan runganku, orang yang sedang mereka perebutkan. aku benci seperti ini. aku benci.
* * * * *
genap tujuh tahun yang lalu aku dipisahkan dengan ayahku tercinta. tapi setelahnya alhamdulillah hidupku jauh lebih sejahtera. bundaku tercinta berjuang keras untuk merawatku anaknya tercinta. walau terkadang aku merindukan sosok ayahku, namun aku tetap bersyukur. mungkin ini jalan terbaik yang telah Allah berikan kepadaku."Bel, ayo ke mushola. semua sudah menunggu kamu." tersentak ku terkaget dari lamunku setelah tepakan rani jatuh di bahu kananku.
"astagfirullah. maaf telah menunggu. ayo kita segera kesana." beranjaklah aku dan Rani dari kursi yang berada di lorong sekolah itu dengan jalan yang hampir berlari menuju mushola sekolah kami yang berada tidak terlalu jauh dari situ. setiba kami disana, hampir semua anggota DKM telah terduduk rapi sambil melantunkan tasbih. senyumku melebar melihat mereka. alhamdulillah, masih banyak siswa yang mengingat-Nya. lamunku lagi.
"Bel, hayu masuk!"
"astagfirullah. iyah" tersenyum lagi aku. bukan karena anak-anak ini lagi, namun karenaku sendiri yang belakangan ini sering melamun.
* * * * *
"Jon, bagai mana laporan anggaran untuk sekolah dasar di wilayah makasar?" tanya ku kepada salah satu bawahanku Joni yang hampir tujuh tahun ini bekerja bersamaku.
"jangan lupa selipan yah Jon." bisikku pada joni sembari mengedipkan mata kananku sebagai tanda kepadanya. yah, itu yang kulakukan untuk membiayai hidupku. untuk membiayai anak perempuanku tersayang, Bella. setelah itu, Joni tahu apa yang harus ia kerjakan. kepada siapa ia harus melapor. dan bagaimana ia bekerja. tak hanya aku dan Joni, banyak atasanku yang melakukan hal serupa. yah, kita semua memiliki keuntungan besar berada diposisi ini.
kadang memang merasa berdosa, namun bagaimana lagi? ini tuntutan dunia. toh aku punya anak yang rajin shalat dan mengaji yang akan menjadi bekalku di akhirat nanti bukan?
"beres bu, tinggal menunggu hasil." Joni memberi ku isyarat dan wajah kemenngan kepadaku. berhasil lagi proyekku kali ini. pikkirku. kini aku bisa tenang untuk sementara.
bel, nanti pulang sekolah bunda jemput yah. kita makan siang diluar dan beli baju buat kamu juga bunda, ok? see you there honey.
kukirim pesan singkat kepada anakku sebagai perayaan kecil-kecilan. entah untuk apa? mungkin untuk merayakan dosa ini atau hanya sekedar membahagiakan putri ku tercinta yang kini sudah mulai beranjak dewasa.
* * * * *
lantunan-lantunan ayat kursi memudar sesaat setelah bel istirahat kedua terdengar. mereka kembali kekelas mereka masing-masing. beberapa jalan berdampingan sambil mengobrol, beberapa berlari cepat-cepat kekelas mereka masing-masing, dan yang sisanya masih bersantai di ruangan mushola.
"kalian tidak kembali kekelas?" tanyaku kepada beberapa siswi yang masih menyandar sendu di ujung mushola.
"aku tak enak badan ka. tadi sebelum kemari aku sudah bilang kepada guru yang akan mengajar jam ini ka." jawab salah satu anak yang terlihat lemas.
"lalu yang lainnya?"
"kami tak tega meninggalkannya sendiri ka. tadi aku sudah bilang juga ke guru yang berangkutan." teman sebelah siswi yang terkulai lemas itu menjawab.
"kalian ga apa-apa ketinggalan pelajaran? mending dia kakak saja yang temani dan kakak ajak ke uks bagaimana? kamu mau de? kebetulan jam ini kakak bertugas di uks." aku berjongkok didepannya sambil menawarkan bantuan.
"alhamdulillah. mau ka. terimakasih ka." wajahnya sedikit tersenyum.
"kalau begitu, kami kembali kekelas yah?" pamit anak yang tadi duduk disebelah siswi yang terkulai lemas ini. setelah ada anggukan dari siswi yang sedang sakit itu lalu dia dan temannya yang lain segera pergi kekelas mereka. aku membantu anak itu berdiri, memopohnya semampuku keruang uks yang tak begitu jauh dari mushola.
"nama kamu siapa? sakit apa? kita harus mengisi absensi uks ini terlebih dahulu." pertanyaan yang biasa di tanyakan petugas uks ini aku lontarkan kepada anak ini.
"Putri Dewi ka, darah rendah aku kambuh sepertinyaka." jawabnya lemas.
"inalillahi. kamu ada obat dokter? oh ya kamu kelas berapa? dan siapa wali kelas kamu?"
"ada ka, ini aku bawa. aku kelas sepuluh tiga. ibu Maryam Suhaeti ka." jawabnya lemas seperti sebelumnya. aku mengecek obatnya.
"kamu sudah minum obat ini siang ini?" dia menggeleng lemas.
"kalau begitu sabar yah, kakak bawakan makanan dulu. tapi maaf bila uks kita hanya menyediakan makanan sederhana yah. abis itu kamu minum obat ini lalu istirahat yah." beranjak ku keluar kelas menuju dapur sekolah.
"Bu minta satu porsi buat siswi yang sedang sakit di uks yah bu. seperti biasa nanti sepulang sekolah bendahara PMR akan kesini yah bu."
"iya neng, tenang ajah. nanti Ibu antar yah neng." sambil tersenyum hangat ibu itu kembali dengan pekerjaannya dan aku kembali ke uks untuk sekedar menemaninya.
telepon genggamku bergetar. tumben sekali di jam pelajaran seperti ini. saat aku periksa ternyata itu dari bundaku. betapa senang ia akan menjemputku lagi kali ini.
* * * * *
"Ibu Maria, apa benar ibu melakukan korupsi atas angaran-anggaran pendidikan untuk sekolah-sekolah di pulau jawa?" tiba-tiba pertanyaan salah satu wartawan menghampiri dan diikuti dengan wartawan-wartawati lainnya. mereka menyerbuku. menanyaiku segala hal. aku pusing. bagaimana mereka bisa..? aku mencoba tenang.
"saya mencintai indonesia dengan hati saya. saya menginginkan pendidikan di indonesia terus berkembang. bagaimana saya memperbolehkan diri saya sendiri korupsi bukan? permisi saudara-saudara. saya ingin menjemput putri saya tercinta." aku buat mereka kaku dan diam dengan senyuman memikat ku. aku masuk ke dalam mobil dengan wajar. semoga mereka tak melihat kebohongan dimimik mukaku. semoga.
"pak, ke sekolah Bella ya pak" sesaat kemudian mobilku melajau melewati beberapa wartawan yang berdiam diri entah berfikir atau kecewa sedangkan yang lain tetap mengambil beberapa gambar ke arah mobilku. aku kembali berfikir cepat, lebih cepat dari mobil ini. aku heran bagaimana mereka bisa tahu? lalu bergegas ku ambil telepon genggamku.
"Jon, bagaimana mereka bisa tahu?" langsung berucapku setelah Joni yang di seberang sana mengangkat teleponnya.
"tak tahu bu, mungkin atasan ibu." jawab dia singkat. namun langsung kumantikan, tak ada gunanya. kini nama ku kan beredar di koran-koran lokal. semoga mereka cepat lupa dengan kabar ini. harapku.
* * * * *
"Bel Bel, itu ibu kamu kan?" tiba-tiba Ihsan mengagetkanku saat aku berjalan melewati kantin. lalu aku pun mengikuti telunjuk tangganya yang menunjuk televisi di ujung kantin yang biasa menjadi tempat nonton bareng anak-anak sekolahku.
"iyah, ada apa sampai bundaku masuk televisi begitu?" tanyaku penasaran.
"katanya dicurigai korupsi gitu." jawab Ihsan sambil terus memandang televisi.
"ga mungkin bunda aku korupsi. semoga Allah menunjukan yang mana yang benar. aamiin" ucap ku sedikit berbisik. dan doaku diamini beberapa temanku disekitar situ yang ikut menonton acara berita itu.
"iyah, kami percaya kok Bel. kamu dan ibu kamu yang tegar yah bel." ucap Ihsan sambil melontarkan senyumnya yang manis dan dapat membuat semua wanita betekuk lutut didepannya itu. seperti aku. namun aku malu. aku ragu.
aku kembali berjalan ke arah depan sekolah. dan tak berapa lama kemudian muncul mobil bundaku didepan gerbang. aku sesegera mungkin berlari ke arahnya. aku setengah berlari.
"bunda yang semangat yah. aku tahu bunda ga bersalah." ucapku setelah beberapa saat masuk mobil ibuku. kami lalu bergegas pergi. bunda tersenyum. namun senyum itu kaku. tak seperti biasanya bunda lebih banyak diam seperti ini. biasanya dia tak menghiarukan masalah saat berada di dekat ku. biasanya kami bercada tawa saat bersama. ada apa bunda? palaku sedikit tertunduk.
kami tiba di mall tak jauh dari sekolah ku. mall yang cukup besar dan biasa menjadi tempat kongkow para remaja sampai orang tua. entah hanya untuk menyantap hidangan bersama teman, rekan kerja, keluarga, atau selingkuhan. siapa yang tahu.
setelah mengunjungi beberapa toko pakaian dan kue-kue yang manis itu, wajah bunda kembali berseri. senyum itu menghangatkan. aku rindu senyum itu, walau hanya satu hari saja tak melihatnya. dia menarik ku kesana-kemari, memilihkan pakaian, mencicipi makanan, sampai aksesoris ku pun dia yang ambil alih. namun aku senang. makasih bunda. semoga kita selamanya bisa terus seperti ini. aamiin.
kami tiba di mall tak jauh dari sekolah ku. mall yang cukup besar dan biasa menjadi tempat kongkow para remaja sampai orang tua. entah hanya untuk menyantap hidangan bersama teman, rekan kerja, keluarga, atau selingkuhan. siapa yang tahu.
setelah mengunjungi beberapa toko pakaian dan kue-kue yang manis itu, wajah bunda kembali berseri. senyum itu menghangatkan. aku rindu senyum itu, walau hanya satu hari saja tak melihatnya. dia menarik ku kesana-kemari, memilihkan pakaian, mencicipi makanan, sampai aksesoris ku pun dia yang ambil alih. namun aku senang. makasih bunda. semoga kita selamanya bisa terus seperti ini. aamiin.
* * * * *
seminggu setelah para wartawan itu pertama kali menghampiriku, banyak orang yang mendukungku dan percaya bahwa aku tak melakukan perihal bejat itu. merek percaya padaku, dan aku hanya tersenyum. namun, tak sedikit pula yang menghujat dan menyumpahiku karena berita-berita yang beredar di media massa.
"bi.. bukain pintu." teriaku memanggil bi Inah yang biasa membantu segala keperluan rumah tanggaku untuk membukakan pintu setelah beberapa saat aku sadar bahwa ada orang lain dibaliknya yang sedang mengetuk-ngetuk pintuku kencang. tak berapa lama kemudian bi Inah kembali membawa kabar yang tak mau ku dengar.
"bu punten, ada polisi mencari ibu." ucapnya sedikit mdenunduk. dengan malas dan penuh pikiran aku beranjak ke dekat pintu utama. apa yang harus kukatakan? apa mereka sudah mengetahuinya? bukti apa yang mereka peroleh?
"ada apa pak?" sapaku kepada polisi dengan senyuman manis tak berdosa sebagai siasat utamaku.
* * * * *
"assalamualaikum." dirumah terlihat sepi. biasanya bunda akan menghampiri ku. bisikku dalam hati.
"waalaikumsalam. non Bella, nyonya dibawa polisi non.." tiba-tiba bi Inah yang menghampiri ku dengan yang terlihat habis menangis. yah, ku dengar sisa isakannya itu. aku bingung.
"loh? kok bisa bi? bunda salah apa bi?"
"nyonya katanya terbukti korupsi non. diberita juga sudah ditayangkan.." isak bi Inah semakin terlihat. aku tak kuasa menahan air yang jatuh dari mata kananku yang lalu disusul dengan air mata-air mata yang lain. aku hanya, takut. aku percaya bunda tak mungkin melakukannya.
"apa bunda akan pulang bi?" menahan isak ku mencoba tegar. aku masih percaya dengan bunda.
"sepertinya nyonya akan ditahan sampai ia benar-benar bersih dari tuduhan non. permisi non." bi Inah pamit setelah menjawab pertanyaanku sembari menjatuhkan apa yang ada dimatanya selama ini. apa yang coba ia tahan. bi Inah pun menyayangi bunda.
kasus bunda belum juga selesai sudah hampir sebulan ini. kata-kata motivasi sampai cemoohan aku dapati selama ini. kadang aku menangis di pojokan mushola tapi sedikit yang peduli. atau bahkan mereka pura-pura peduli. kini aku bimbang. aku terus berdoa kepada-Nya tapi mana jawabannya? Bunda masih berada di balik dinginnya jeruji besi. kadang aku menengokinya. berbincang dengannya. tapi itu belum cukup. aku ingin bunda pulang.
"assalamualaikum.." salam ku kini tak bersemangat lagi saat menginjak rumah hasil jerih payah bunda ini. tak ada bunda disini. aku tergontai lemas. pikiranku semerawut. semua kata-kata yang dilantarkan temanku tak lagi ku pedulikan. cemooohan dan hinaan itu ku anggap hanya gurauan. tapi tetap saja, pikiranku kacau. aku merindukan bunda.
"pemirsa.. kembali lagi bersama kami dalam headline news petang. pejabat negara yang menangani pendidikan daerah yang mulai terkenal akhir-akhir ini karena tuduhan korupsi kepadanya telah sampai kepada bukti yang cukup mencengangkan. Maria Sulistia kini terbukti tak hanya melakukan korupsi sebesar 12 miliyar rupiah. namun ia membayar penjangga sel dan keluar beberapa saat dari sel untuk menemui hakim yang mengurusi sidangnya itu. wartawan swasta yang tak sengaja melihatnya berjlan dan kurang yakin bahwa itu dia mulai mebuntutinya sampai ia yakin benar bahwa wanita yang menggunakan pakaian terusan berwarna merah dan topi piknik adalah Maria Sulistia, wartawan yang bernama Riko memutuskan untuk tetap membuntutinya. sampai akhirnya mereka tiba di sebuah hotel bintang lima terkemuka di ibu kota Jakarta. yang lebih menganggetkan wartawan tersebut adalah tak lama kemudian hakim yang berinisial KN itu datang dan memasuki ruangan yang sama. tanpa ragu wartawan tersebut melapor pada pihak hotel dan polisi setempat...." ku matikam televisi kamar itu. aku tak sanggup melihat lebih.
aku semakin kacau. ku lihat jendela kamarku memanggil-manggil. kamar yang tepat dilantai dua ini memang memiliki jendela terbuka yang sangat lebar. aku senang duduk disampingnya. mungkin jendela itupula akan senang bila aku melewatinya dan bebas terbeng ke udara luar dengan bantuannya. yah aku ingin terbang. terbang tingi sekali.
* * * * *
tring... tring... telepon kantor ku berbunyi mengagetkanku dari lamunanku. entah mengapa aku rindu anakku.
"hallo.." tak sempat ku meneruskan tiba-tiba suara bi Inah menyambar berbica ke arahku. memang ku tinggalkan nomor teleponku dari rumah, handphone, sampai telepon kantorku kepada bi Inah tanpa sepengetahuan Maria, mantan istriku.
"pak guntara? pak, non Bella pak, non Bella.." isak bi Inah kencang namun aku tetap memeperhatikan setiap detail yang dia ucapkan. tak lama segera ku tutup telepon itu dan bergegas pergi.
dengan paksa ku masuk ruangan itu. aku berlari. bahkan lebih dari berlari.
"interupsi pak hakim, maaf mengganggu persidangan ini." semua orang melirik kepadaku yang tak patut disebut orang sopan ini. namun aku tak peduli. mukaku yang basah dengan keringat dan air mata ini sudah kalut dengan keadaan.
"bolehkan kita tunda persidangan ini karena tersangka Maria Sulistia harus menghadiri pemakaman anaknnya Bella Rosa Putra Guntara."
No comments:
Post a Comment