Saturday, April 7, 2012

Renungan Malamku

tanggal merah. sepintas ku lihat kalender yang tertempel tegap di pinggiran meja belajarku. ah, tanggal merah. tanggal merah berarti lain untukku. tanggal merah berarti membuang waktukku, menyia-nyiakan sisa hidupku. aku berani bertaruh, hari ini aku akan dikamar seharian tanpa melakukan apa-apa selain makan dan tidur.benar saja. aku sarapan, kembali kekamar dan tidur. aku makan siang, kembali kekamar dan tidur. aku makan malam, kembali kekamar dan berfikir sepertinya aku membutuhkan udara malam.
sejenak aku beranjak ke dapur ibu kost ku untuk segelas air putih dari botol dingin yang berada di kulkasnya seharian. kasian botol itu harus menerima nasibnya berada di kulkas yang dingin seharian. membosankan pastinya.
ku teguk segelas penuh air dingin di gelas yang kupegang. segar rasanya setelah seharian meringkuk pasrah di tempat ridur. aku butuh kopi, pikirku. bergegas tegas ku kembali kekamar. menuju kotak besar dari kayu , beberapa baju menumpuk kusut dan yang lain tergantung mematung. ku rampas baju hangat berwarna merah gelap tak berkerah itu. tak peduli kusut karena kemalasanku untuk mnyetrikanya lantas kukenakan seenakku. aku ambil kunci di meja belajar dan ku kunci kamar kost-anku yang hanya berupa ruang pengap sekitar lima kali empat meter itu. aku ingin mengarungi malam ini, sendiri. bisikku dalam hati. tanggal merah memang tanggal yang tenang.
aku ambil langkah-demi langkah. aku akan pergi ke minimarket depan perumahan saja, pikkirku. aku sedang ingin berjalan jauh hanya untuk merenggakan otot-otot ku yang sedari tadi hanya menelan gaji buta dari nutrisi yang mereka serap. jalanan lebih ramai dari biasanya. aku sempat lupa jika ini hari libur. semua pergi bersenang-senang. kulihat langkah kaki-kaki mungil berlari kesana-kemari didekat mesjid. aku pernah seperti mereka, dulu. namun sekarang berbeda adanya. aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku pergi ke mesjid. kapan aku terakhir kali bertemu tuhan dan bersujud padanya. kapan terakhir kali ku dengar perintah ibuku untuk mengenakan koko serta peci dan pergi mengaji. berdosakah aku? ya, mungkin.
beberapa meter dari mesjid terdapat taman-taman gelap yang biasa dipakai main anak-anak dikala siang, dan dipakai bercumbunya remaja-remaja dikala malam. anak muda. beberapa di antara mereka terdengar bermain musik dan bernyanyi. tiga orang mungkin. disisi-sisi lainnya terdengar suara rayuan, rintihan, bahkan nada geram keluar dari masing-masing pasangan yang memadu kasih itu. risih. aku juga lupa kapan terakhir kali aku mencinta. dipiranku kini hanya bagaimana secepatnya menyelesaikan kuliahku, pergi dari kost-an pengapku, hidup di duniaku. aku melewati mereka semua. mungkin dari mereka ada yang diam-diam melihatku hanya untuk mengawasi gerak-gerikku.
ah, sampai juga aku ketempat yang sedari tadi aku tuju. entah mengapa dan aku kira semua orang berfikir sama. minimarket ini seringkali kujumpai bersebelahan atau bersebrangan dengan minimarket lain yang namanya hampir sama. apakah mereka bersaudara atau rival sehati? aku tak tahu. dan kerap kali aku melihat tukang gorengan didepan minimarket itu. ah sudahlah, memikirkan apa aku? itu bukan urusanku. aku segera memasuki minimarket itu. aku kembali ambil langkahku menuju kotak pendingin yang berada dipijokan ruangan itu. aku menyegarkan diri sesaat saat membukannya dan mengambil beberapa kopi kaleng dari dalamnya. tiga mungkin cukup, pikkirku. tak lupa aku mengambil sebungkus kacang dalam kemasan untuk kusantap malam ini. sepertinya akan ada pertandingan sepak bola malam ini, aku harap. kembali ku masuk dalam pikiranku sendiri.
minimarket ini berada bersebrangan dengan gapura perumahan yang aku tinggali. aku malas bila harus menyebrang, namun tak ada pilihan lain. setelah mengantri beberapa menit dan menyelesaikan semua transaksi jua-beli yang cukup singkat ini. aku mendorong pintu minimarket itu perlahan. aku keluar dengan kantong plastik berisi kopi kalengan dan kacang kemasan ditanganku sembari memasukan uang receh kembalian yang diberikan si kasir tadi. selang beberapa langkah, aku terkejut. aku terpaku kaku. aku... diam membisu. semua orang berlalri kesatu arah. dijalan bertebaran darah. aku? diam tak berarah. aku pasrah. aku lihat saat mobil itu dengan kencangnya melmbungkan sebuah motor di atasnya yang juga sedang melaju kencang. semua tak terkendali, pengendara mobil bingung dan langsung mengambil ancang-ancang meninggalkan tempat kejadian. pengendara motor terpental bersama motornya. meninggalkan darah. tinggal jenazah.
aku masih terpaku. sesaat aku menggelengkan kepala lalu pergi kekerumunan. seseorang sedang menelpon ambulan. yang lain menggotong pengendara kepinggir jalan. berdekatan motornya yang sedari tadi sudah melesat dan terhenti di bawah tiang listrik yang sedari tadi berdiri tegak, tegar, atau sama sepertiku. membeku. aku baru sadar, malaikat maut itu ternyata lebih cepat dari pada motor si pengendara itu. malaikat maut mengintai seperti mata-mata yang dibayar khusus oleh negara. malikat maut seperti pembunuh berdarah dingin yang dibayar oleh raja mafia dipinggiran ibu kota. dan setelah tugasnya selesai, ia pergi mengintai yang lain. kembali melesat cepat.
aku kembali hanyut dalam pikiranku sendiri. namun kali ini aku tak hanya melamun, tapi aku berantakan. apa yang baru saja kulihat begitu menyakitkan. sampai datangnya mobil ambulan hampir berbarengan dengan orang terdekat si pengendara, terlihat dari jeritan si wanita yang baru datang itu. meneriaki nama si pengendara naas itu.
"ridwan...." teriaknya namun tertahan isaknya. ridwan yang malang. setelah ambulan itu pergi mebawanya bersama wanita yang baru saja datang. aku pun kembali ke peraduanku, mengambil langkah lagi ke tempatku. ke kost-an pengapku. merenungkan yang terjadi kurang dari satu jam ini. merenungkan kembali kata-kata ibu. merenungkan kembali nasib ridwan. merenungkan kembali keberadaan Tuhan sambil meneguk sekaleng kopi kalengan dan memakan beberapa kacang kemasan.

No comments:

Post a Comment