terik matahari yang menggoreskan perjuangan
telah kau acuhkan
kulit putih yang menjadi hitam penuh kenangan
telah kau singkirkan
pembicaraan orang yang kian penuh hinaan
demi sebuah angan
agar keturunanmu mendapatkan sebuah pujian
tadi sepulannya gue dari senayan, gue naik bis tol dari arah Blok M ke Cikarang. setelah berhenti di salah satu tempat yang gue lupa namanya gue liat ibu-ibu masuk dengan anak nya yang masih belia yang belakangan gue tahu kalo nama anak itu adalah butet yang berumur 5 tahun di tanggal 22 yang lalu (jiwa jurnalis gue muncul) yang mana merupakan anak yang ke 4 dari 4 bersaudara.
suara ibu itu lumayan walau ga sebagus sean atau regina. tapi yang gue tangkap adalah wajah yang penuh perjuangan. gue yakin dulu dia ga seitem itu waktu gadis (sok tahu), kulit nya kaya terbakar matahari gitu tapi dia tak terlihat menyesal dan masih memberikan senyuman kepada setiap orang di bis. tergambar dari wajah, senyum, dan gestur yang menunjukan ketulusan seorang ibu yang membantu keluarganya. gue jadi kasian sama mereka. sebenrnya ibu itu juga pinter, dia punya empat anak tapi ga terlalu deket. setahu dan sependengaran gue (jurnalis endengerannya harus tajem) anak pertama itu cewek udah kerja, tapi ga disebutakan dimana dia bekerja. yang kedua cowok kelas dua SMA. ketiga cewek kelas 2 SMP dan yang ketiga butet, dia masih sd dan lucu.
ku kejar asa ku selagi ku bisa
ku bantu dirimu selagi ku mampu
ibu..
aku bersyukur atas apa yang kau beri
atas apa yang Tuhan anugrahi
seutas kertas kucel ini pun cukup menghiburku
tak usah pusing-pusing membeli mainan baru
ibu..
maaf tingkahku menjengkelkanmu kadang
maaf karena lahirku kulitmu belang
maaf tingkahku tak seperti gadis kecil kebanyakan
aku hanya ingin menunjukan padamu ibu..
jika aku bisa seperti dirimu, tegar.