Thursday, October 25, 2012

Ibu Pinggir Jalan dan Anaknya

telah kau hiraukan
terik matahari yang menggoreskan perjuangan
telah kau acuhkan
kulit putih yang menjadi hitam penuh kenangan
telah kau singkirkan
pembicaraan orang yang kian penuh hinaan
demi sebuah angan
agar keturunanmu mendapatkan sebuah pujian

tadi sepulannya gue dari senayan, gue naik bis tol dari arah Blok M ke Cikarang. setelah berhenti di salah satu tempat yang gue lupa namanya gue liat ibu-ibu masuk dengan anak nya yang masih belia yang belakangan gue tahu kalo nama anak itu adalah butet yang berumur 5 tahun di tanggal 22 yang lalu (jiwa jurnalis gue muncul) yang mana merupakan anak yang ke 4 dari 4 bersaudara.
suara ibu itu lumayan walau ga sebagus sean atau regina. tapi yang gue tangkap adalah wajah yang penuh perjuangan. gue yakin dulu dia ga seitem itu waktu gadis (sok tahu), kulit nya kaya terbakar matahari gitu tapi dia tak terlihat menyesal dan masih memberikan senyuman kepada setiap orang di bis. tergambar dari wajah, senyum, dan gestur yang menunjukan ketulusan seorang ibu yang membantu keluarganya. gue jadi kasian sama mereka. sebenrnya ibu itu juga pinter, dia punya empat anak tapi ga terlalu deket. setahu dan sependengaran gue (jurnalis endengerannya harus tajem) anak pertama itu cewek udah kerja, tapi ga disebutakan dimana dia bekerja. yang kedua cowok kelas dua SMA. ketiga cewek kelas 2 SMP dan yang ketiga butet, dia masih sd dan lucu.

ku kejar asa ku selagi ku bisa
ku bantu dirimu selagi ku mampu
ibu..
aku bersyukur atas apa yang kau beri
atas apa yang Tuhan anugrahi
seutas kertas kucel ini pun cukup menghiburku
tak usah pusing-pusing membeli mainan baru
ibu..
maaf tingkahku menjengkelkanmu kadang
maaf karena lahirku kulitmu belang
maaf tingkahku tak seperti gadis kecil kebanyakan
aku hanya ingin menunjukan padamu ibu..
jika aku bisa seperti dirimu, tegar.


Tuesday, October 23, 2012

akulah dirimu

jadi diri senidirilah!
dia bicara lantang sambil menunjukan jari kaku
bukan mauku juga serba memilah
dimana keadaan memaksaku memakan batu
keras, tak sanggup aku
karena aku bukanlah aku
sulit aku memujaku
disaat kau tak membiarkan aku menjadi aku
disaat akulah simulasi mu
menunjukan siapa kamu
berusaha memujamu
menyamankan dirimu
dengan sikapku yang kaku
dengan sikapku
sikapmu

Sunday, June 17, 2012

Robot Manusia

tik.. tik.. tik.. suara jatuhan air itu menemaniku. duduk terdiam aku di sudut lorong jalan ini. apakah ini ujung? atau justru inilah pinggir? aku tak mengerti. aku hanya tersiam di lorong setengah lingkaran ini. dibawah jembatan metropolitan dan dikelilingi beceknya jalan. hujan hari ini terasa lama sekali. entah berapa jam aku menunggu dibawah lorong ini. aku tak sendiri. aku ditemani orang-orang yang berhenti hanya sekedar memakai jas hujan yang ia ambil dari motor lalu pergi, ditemani mereka yang setengah berlari kemari saat hujan datang, ditemani bayangan hitam yang aku pun tak dapat membedakan. mana bayanganku dan mana masa laluku. 

Friday, May 18, 2012

Malamku Merindu

senandung rintik ini merdu menemani
hentakan serta momentum tak ada henti melatari
alunan mimpi perlahan melambai mengisyarati
malam telah kelam, malam telah siap menyelimuti

Wednesday, May 16, 2012

Antara Aku dan Mereka

jabatan apa yang kau punya?
mereka bertanya
aku tak punya jabatan
ku menjawab, ku langsung dibuang
namun aku kembali
kau punya uang berapa?
kembali mereka bertanya

Sunday, May 6, 2012

Senyum Ku

senja itu memukau. indah. Alhamdulilah aku bisa melihatnya, bersama dia yang kucinta disamping ku.
"hey, kamu kenapa senyum-senyum gitu?"
aku mencoba membuka kembali sebenarnya apa yang sedang kupikirkan. aku tak begitu yakin. tapi yang kutahu sedari tadi hanya wajahnya yang terlintas.

Monday, April 23, 2012

Bella Rosa Putra Guntara

"mas, apa maksudmu? memang kau dapat menghasilkan yang lebih dari aku? kau bisa lihat sendiri keadaan kita sedang begini. kau harusnya berterimakasih kepadaku mas."
"tapi ga gini maria. tapi terserah kalau kamu mau tetap seperti ini, tapi aku akan pergi dan membawa bella!"
"ga bisa. kalau kamu mau pergi, bella tetap bersamaku mas."

Sunday, April 22, 2012

KISAH INI

pernah ku mengucap tanya
mengapa harus dia?
pernah ku terelak sebuah kisah tukang cinta
hampir ku terjebak didalamnya meski sementara
namun tak mau ku hidup dengan luka di dada

Thursday, April 19, 2012

Kemilau Senja Itu

kau tanya mengapa ku terdiam
ku jawab akan senja itu
menikmati senja itu
memahami kemilau itu

Saturday, April 7, 2012

Renungan Malamku

tanggal merah. sepintas ku lihat kalender yang tertempel tegap di pinggiran meja belajarku. ah, tanggal merah. tanggal merah berarti lain untukku. tanggal merah berarti membuang waktukku, menyia-nyiakan sisa hidupku. aku berani bertaruh, hari ini aku akan dikamar seharian tanpa melakukan apa-apa selain makan dan tidur.benar saja. aku sarapan, kembali kekamar dan tidur. aku makan siang, kembali kekamar dan tidur. aku makan malam, kembali kekamar dan berfikir sepertinya aku membutuhkan udara malam.

Wednesday, March 28, 2012

Resah Rusuh Para Buruh


Hidup kini tak beralaskan bumi. Bukan sekedar hidup untuk memenuhi kantung perut yang merintih bisu. Bukan hanya itu. Namun semua kini telah berubah tak indah, menghasilkan biji masak tak berbuah. Mereka yang kini hidpunya menumpang pada nasib dan ikut membuntuti takdir hidup pasrah namun resah. Mereka tak sanggup memberi sanak saudara, istri dan keluarga berupa daging mewah. Hanya sayur yang ditancapkan kebumi dan ikan-ikan kucing yang tersisa dari si kaya.

Bersama Air


                Pernah ia berfikir bagaimana ia melupakan dan meledakan duka ini. Ia terdiam termangu di pojokan kamarnya. Selimut diatarik erat melindungi udara dingin dari si peniup di tembok kamarnya. Dia kedinginan, terbujur kaku, dan kesakitan. Sementara hujan berderu deras di luar kamarnya menyambut sakit hatinya. Dia pedih disini, bersama selimut, udara mencekam, dan dentingan suara hujan. Setidaknya ia tidak sendirian. Dia bersama kenangannya yang tersisa.