saat malam datang dia sering sekali menyapaku dan menuntunku untuk tidur. bermimpi bersama dan menyambut pagi di kemudian detik. aku sudah bersamanya lama. disaat dia pindah dia rumah dia selalu mengajaku bersama. saat dia pindah ke ruang berwarna hijau, putih, biru dan hari ini kuning. dia tetap membawa dan mengajaku bersamanya. aku teman setianya, dia setia memberikan daya padaku. untuk kehidupanku.
aku tak pernah mau hidupku bersinar namun sia-sia. aku selalu ingin berguna untuknya. aku tak pernah ingin padam jika ia tak menginginkanya. akupun tetap menajga kesehatanku untuk dirinya. aku senang berada di dekatnya, seperti yang sudah kubilang. walau kadang dia pergi sehari penuh dan meninggalkanku dalam kelelahannya menjemput lelap.
seperti kataku, aku sudah bersamanya lama. aku melihat ia tumbuh. ia semakin dewasa dan terbuka. aku tahu itu. aku sering melihat dia menulis di blognya, jurnalnya, ataupun dari ucapannya langsung saat bercerita kepadaku. semenjak aku dipertemukan oleh kedua orang tuanya, aku menjadi teman sejatinya. teman dimana dia bisa leluasa berbagi kisah indah ataupun berkeluh kesah.
dahulu ia senang sekali mengeluh. ya, dia orang yang sering mengeluh. dari melihat rendah dirinya. dia tak mengerti cara melangkah dengan benar, ia hanya berusaha melangkah. ia tak punya tujuan yang jelas. keseringan ia mengimitasi pekerjaan dan cita-cita namun ia sadar itu bukanlah dia.
dulu pernah ia salah melangkah, menurutnya. namun kini ia bersyukur. dia bercerita padaku kini hidupnya bahagia. dia mungkin tak akan merasakan kebahagian seperti ini jika ia tak salah melangkah. karena setelah kesalahan ia melangkah, ia bersyukur. rasa syukur memang tiada duanya. kini ia menikmati syukurnya dalam gelap malam atau terangnya siang. ia memanjatkan syukurnya minimal lima kali sehari dan itu membuatku tersenyum.
kini, disamping jendela ia bercerita. ditemani suara angin dan kerumunan malam. iya tersenyum bahgia. ia sedang bersyukur. aku tetap terpaku ditempatku, menemaninya, mendengarkannya, dan menyinarinya.
malam semakin kelam. kicau burung tak lagi bergema. ia menuntunku ke alam malam. ia berkata "aku tidur dulu. kapan-kapan cerita lagi." mematikan sinarku dan terlelap. aku tersenyum walau tanpa sinar. setidaknya, walau hanya sebagai lampu meja ku tetap bersyukur telah menjadi temannya.