Hidup kini tak
beralaskan bumi. Bukan sekedar hidup untuk memenuhi kantung perut yang merintih
bisu. Bukan hanya itu. Namun semua kini telah berubah tak indah, menghasilkan
biji masak tak berbuah. Mereka yang kini hidpunya menumpang pada nasib dan ikut
membuntuti takdir hidup pasrah namun resah. Mereka tak sanggup memberi sanak
saudara, istri dan keluarga berupa daging mewah. Hanya sayur yang ditancapkan
kebumi dan ikan-ikan kucing yang tersisa dari si kaya.
Tak banyak dari
mereka bahagia, dominan mereka resah. Hidup seperti apa ini? Untuk apa hidup
tak menentu diatas raja-raja yang meracau. Bukan menyalahkan, hanya sekedar
berpendapat agar resah hati tak menjadi risuh seperti mereka yang tenggelam
dalam emosi. Seperti mereka yang terjebak dalam permainan monopoli dan keluar
dari hati nurani.
Hujan dan guntur tak
lagi menakutkan disaat jalan malam nan gelap kini telah beranjak menjadi tempat
rusuh para buruh yang berusaha mencari baju lusuh. Mereka tak berbaju. Bukan
menakut-nakuti hanya ingin bersikap tegar untuk menghilangkan rasa resah nan
kian pasrah hingga membutuhkan masalah.
Bukan untuk
memenjarakan diri atau hidup dalam penyiksaan saat waktu kekal itu muncul. Hanya
ingin memeringatkan raja-raja dan menyadarkan meraka bahwa disini kami tak
memiliki apa-apa. Bahwa disini kami membutuhkan mereka sang raja-raja dari para
buruh yang resah.
No comments:
Post a Comment