Wednesday, March 28, 2012

Resah Rusuh Para Buruh


Hidup kini tak beralaskan bumi. Bukan sekedar hidup untuk memenuhi kantung perut yang merintih bisu. Bukan hanya itu. Namun semua kini telah berubah tak indah, menghasilkan biji masak tak berbuah. Mereka yang kini hidpunya menumpang pada nasib dan ikut membuntuti takdir hidup pasrah namun resah. Mereka tak sanggup memberi sanak saudara, istri dan keluarga berupa daging mewah. Hanya sayur yang ditancapkan kebumi dan ikan-ikan kucing yang tersisa dari si kaya.
Tak banyak dari mereka bahagia, dominan mereka resah. Hidup seperti apa ini? Untuk apa hidup tak menentu diatas raja-raja yang meracau. Bukan menyalahkan, hanya sekedar berpendapat agar resah hati tak menjadi risuh seperti mereka yang tenggelam dalam emosi. Seperti mereka yang terjebak dalam permainan monopoli dan keluar dari hati nurani.
Hujan dan guntur tak lagi menakutkan disaat jalan malam nan gelap kini telah beranjak menjadi tempat rusuh para buruh yang berusaha mencari baju lusuh. Mereka tak berbaju. Bukan menakut-nakuti hanya ingin bersikap tegar untuk menghilangkan rasa resah nan kian pasrah hingga membutuhkan masalah.
Bukan untuk memenjarakan diri atau hidup dalam penyiksaan saat waktu kekal itu muncul. Hanya ingin memeringatkan raja-raja dan menyadarkan meraka bahwa disini kami tak memiliki apa-apa. Bahwa disini kami membutuhkan mereka sang raja-raja dari para buruh yang resah.

No comments:

Post a Comment